Wanita tua yang biasa kupanggil mbahibu itu sudah hampir empat tahun ini meninggalkan hari-hariku. Semasa beliau sugeng, kekagumanku pada sosok nenek benar-benar melebihi kegamuanku pada Ibuku sendiri. Mengapa? Karena nenek mempunyai sifat yang hampir semua aku harapkan ada pada diriku.
Pertama, nenek sangat setia. Kakekku meninggal sekian puluh tahun yang lalu, saat Ibuku masih memakai seragam merah putih dan aku pastinya belum terlahir saat itu. Sepeninggal kakek, nenekku menjadi seorang janda yang semula berstatus nyonya besar menjadi seorang wanita sederhana. Di tengah kesederhanaannya itu, nenek harus membesarkan kelima putra-putrinya. Tiap hari nenek berjalan kaki dari rumah menuju pasar besar yang jaraknya bisa sampai lima kilo, untuk berjualan pakaian.
Aktivitas tersebut terus beliau lakukan hingga puluhan tahun kemudian, hingga semua putra-putrinya menyandang gelar kesarjanaan, bekerja, lalu menikah dan kemudian cucu-cucunya terlahir. Dan aku pun menjadi saksi perjuangan beliau. Semasa SD aku bersekolah tidak jauh dari rumah nenek, dan setiap kali pulang sekolah itulah aku selalu menunggu kepulangan bapak dan ibu dengan menemani nenek berjualan baju di pasar. Aktivitas yang sangat berbeda dengan aktivitas sehari-hariku tersebut sungguh sangat menarik bagiku. Membantu nenek mengambilkan uang kembalian, membungkus pakaian, hingga mengekor nenek ke masjid pasar jika adzan berkumandang. Dan satu hal yang tentunya membuatku bersemangat adalah beberapa kali aku mendapatkan pakaian baru dari nenek, bahkan aku boleh memilihnya sendiri.
Lalu kenapa kukatakan nenekku seorang yang setia?
Belajar, belajar dan terus belajar guna mejadi pribadi yang berkarakter dan berakhlak mulia, aamiin (^_^)
Kamis, 05 Januari 2012
Selasa, 03 Januari 2012
Kangen Kalian (Part 1)
Rindu itu terus memenjarakanku. Pada suatu ruang kosong yang hampa, bahkan tak kulihat ada cahaya sedikit pun di ruangan ini. Tapi tahukah, sahabat? Walaupun ruangan yang kutempati ini terasa hampa tapi hatiku dipenuhi dengan nuansamu. Pelangimu. Warna-warni kisahmu.
Ada bagian terang yang terjadi diantara kita. Ada sisi gelap yang pernah kita lalui bersama. Semua seakan terangkum dengan sempurna di tiap halaman buku kita. Hingga saat jarak terentang diantara kita, kita mulai membiarkan beberapa halaman kosong tanpa kisah. Ah, apakah selamanya halaman-halaman berikutnya akan terus kita kosongi, sahabat? Lihatlah, lembaran putih itu sepertinya merindukan kisah-kisah kita. Merindukan tarian pena kita. Merindukan bercengkerama dengan cerita konyol kita. Ah, apakah saat-saat itu juga menjadi moment-moment mengasyikkan dalam perjalanan kita, sahabat?
Ingatkah kau dengan imajinasi kita waktu itu? Saat kita berkhayal suatu saat nanti kita akan mendirikan gedung sekolah yang full colour dilengkapi dengan guru-guru yang super gaul. Dengan kantin besar full AC dan full music. Dengan ruang kelas yang sangat memungkinkan muridnya tertidur dengan pulas.
Hahaha...
Lalu kita tertawa bersama. Dan kemudian mulai beranjak menuju imajinasi selanjutnya.
Masih ingatkah kau saat kita asyik berkhayal tentang rumah tangga kita, sahabat?
Ada bagian terang yang terjadi diantara kita. Ada sisi gelap yang pernah kita lalui bersama. Semua seakan terangkum dengan sempurna di tiap halaman buku kita. Hingga saat jarak terentang diantara kita, kita mulai membiarkan beberapa halaman kosong tanpa kisah. Ah, apakah selamanya halaman-halaman berikutnya akan terus kita kosongi, sahabat? Lihatlah, lembaran putih itu sepertinya merindukan kisah-kisah kita. Merindukan tarian pena kita. Merindukan bercengkerama dengan cerita konyol kita. Ah, apakah saat-saat itu juga menjadi moment-moment mengasyikkan dalam perjalanan kita, sahabat?
Ingatkah kau dengan imajinasi kita waktu itu? Saat kita berkhayal suatu saat nanti kita akan mendirikan gedung sekolah yang full colour dilengkapi dengan guru-guru yang super gaul. Dengan kantin besar full AC dan full music. Dengan ruang kelas yang sangat memungkinkan muridnya tertidur dengan pulas.
Hahaha...
Lalu kita tertawa bersama. Dan kemudian mulai beranjak menuju imajinasi selanjutnya.
Masih ingatkah kau saat kita asyik berkhayal tentang rumah tangga kita, sahabat?
Datang untuk Pergi
Suatu hari di sebuah senja nan elok
Aku tengah bercengkerama manja
Dengan kekasihku, jagoan kecilku,
Juga penghuni baru rahimku
Tak ada kopi menemani
Tak jua secawan cake
Namun semua begitu sempurna
Dan seakan aku tak menginginkan yang lain lagi
Namun
Hanya sesaat
Sedetik kemudian suasana berganti
Tidak Allah izinkan dia menjadi penghuni rahimku
Dia pergi...
Termangu
Sepi
Hampa
Sakit
Nelangsa
Kembali...
Sentuhan mungilnya menyadarkanku
Dekapan mesranya menyentakku
Bersamaan kulihat senyum di wajah kekasihku
Ah, semua masih sempurna bagiku
Jumat, 18 Maret 2011
Leutika Unik
LEUTIKA UNIK
Pertama mengenal Leutika Publisher, saya benar-benar merasa aneh dengan kata ‘Leutika’ itu sendiri. Dari tiga bahasa yang saya kuasai, yaitu bahasa indonesia, bahasa surabaya dan bahasa jawa (hehe...) saya tidak menemukan arti kata Leutika. Hingga selang beberapa waktu setelah itu saya mengabaikan Leutika begitu saja (maaf) karena sungguh saya tidak tahu, lebih tepatnya tidak mengenal Leutika.
Di suatu malam yang hening saat saya membuka akun facebook, saya menemukan sebuah tag notes di wall saya dari Leutika Publisher. Sebuah notes tentang event menulis Curhat Jalan Raya (CJR). Sejenak saya terlena dengan persyaratan yang menurut saya cukup mudah. Hanya menulis 3-4 lembar lalu mengirimkannya melalui email, kemudian mem-posting event lomba tersebut. Dan selesai!
Tanpa sadar saya tersenyum sendiri. Yup! Inilah jalan keluar dari kebuntuan saya untuk menyalurkan hobi nulis yang selama ini hanya sampai ubun-ubun saja. Selanjutnya Leutika masih rajin mengundang saya di tiap event-eventnya, walau beberapa diantaranya tidak saya ikuti, tapi saya selalu memantau tumbuh kembang si kecil eh Leutika.
Dan tanpa terasa Leutika sekarang sudah beranjak besar. Ibarat dede bayi, Leutika udah lancar berjalan dan bicara, bahkan udah bisa didaftarkan sebagai siswa Play Group (hehe just kidding). Selama dua tahun bersama Leutika, saya merasakan banyak perubahan pada diri saya. Pertama, saya jadi punya ‘teman’ tempat menyalurkan hobi. Kedua, saya merasa ber-FB-an sekarang tidak hanya sekedar main-main, tapi justru mendapatkan banyak ilmu dari Leutika. Ketiga, beberapa kali jadi sering dapat kiriman buku (tanpa bom tentunya) ^_^
Saya merasa sangat nyaman berteman dengan Leutika. Walaupun tidak pernah bertemu secara langsung dengan Leutika, tapi saya merasa ‘dekat’ dengannya. Setiap pertanyaan yang terkirim di wall Leutika selalu dijawab dengan ramah, dan sepanjang yang saya tahu, Leutika selalu menyisipkan tanda smile :) setiap selesai berkomentar. Ah, Leutika...
Event-event yang diadakan Leutika juga sangat menarik hati. Misalnya saja weekly notes. Weekly Notes adalah lomba menulis essay yang lumayan mudah untuk taraf pemula seperti saya. Selanjutnya audisi penulis buku dengan tema yang telah ditentukan. Untuk event ini tiga kali saya ikuti ternyata belum meloloskan satu pun naskah saya, hahay it’s okay, perjuangan terus berlanjut, buk! Ada juga event GPP (Ganti Photo Profil). Nah kalau yang ini event yang paling nggak menguras tenaga. Tinggal ganti foto profil, konfirmasi keikutsertaan, selesai. Tapi seperti yang sudah-sudah, untuk event ini belum sekali pun saya beruntung.
Statom (Status of the Month) adalah event yang unik. Hanya menulis status, dan jika beruntung, kita akan mendapatkan hadiah buku. Hmm, gampang kan?! Selanjutnya fiksi foto. Event ini juga terbilang unik. Dari sebuah foto yang disajikan Leutika, kita tinggal membuat cerita tentang foto itu. Benar-benar dibutuhkan imajinasi tingkat tinggi untuk menjadi pemenang. Nah, untuk yang hobi berkhayal, event ini sangat pas buatmu ^_^
Selain mengadakan event, Leutika juga sangat pas menjadi ‘teman’ bagi para pebisnis. Misalnya saja layanan Gerai. Apabila kita punya bisnis, misalkan warung makan, warnet, rental, dll, kita bisa mengikuti layanan Gerai ini, yaitu ‘memamerkan’ buku-buku Leutika di sebagian dari ruang kerja kita. Ehm, oke kan?! Bagi yang belum mempunyai usaha apapun, Leutika juga menyediakan layanan khusus yang disebut Mitel, yaitu Mitra Edar Leutika. Hanya order buku di Leutika kemudian membayar setengahnya, selanjutnya kita bisa menjual ke teman kuliah, teman main, teman curhat, teman shopping, teman tapi mesra (upz) dengan harga yang sebenarnya, otomatis kita akan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan itu. Kalau pun kita menjualnya dengan harga diskon, kita tetap mendapatkan untung. Percaya dech ^_^
Setelah Leutika berjaya, Leutika kini punya lini publishing yang dinamakan Leutika Prioritas, dan selanjutnya lebih sering disebut Leutika Prio. Wadah bagi para penulis pemula untuk menerbitkan bukunya. Dengan harga terjangkau insya Alloh kita mendapatkan hasil yang memuaskan. Ada proses edit aksara, layout dan cover kualitas prima, bebas kosultasi selama satu jam melalui YM/FB, mendapatkan satu eks buku terbit dan ISBN. Buku yang telah diterbitkan tersebut akan dijual secara online. Sangat praktis. Untuk layanan pemesanan sendiri, jangan khawatir, Leutika tergolong express. Saya sudah membuktikannya, hari ini pesan buku dan transfer, dua hingga tiga hari ke depan buku sudah di genggaman dan siap disantap ^_^
Nah, jika masih penasaran, kunjungi aja situsnya. Klik aja di www.leutika.com dan www.leutikaprio.com dijamin kita akan lebih termotivasi untuk membaca, menulis dan kemudian menginspirasi. Insya Alloh. Read, write, inspire.
Kamis, 04 Februari 2010
fakta warung tenda
.................
Tanpa isyarat sedikitpun, tiba-tiba garis arsiran mulai turun dari langit.
“Hujan!” teriakku kaget.
Spontan kutangkap tangan Ziyan dan menariknya untuk berlari menuju sebuah warung tenda terdekat. Kucarikan tempat duduk untuk Ziyan disisiku. Kupastikan Ziyan tidak akan terkena air hujan. Beberapa orang kemudian mulai berdatangan untuk ikut berteduh. Ditengah alun-alun kota memang agak susah menemukan tempat untuk berteduh saat hujan turun tiba-tiba seperti ini. Satu-satunya tempat, ya tentu saja di warung-warung tenda macam ini.
“Kopi krim dua, bang,” pesanku pada pemilik warung tenda.
Ziyan menatapku heran,
“Tumben?”
Aku hanya tersenyum,
“Situasi darurat,” ujarku sekenanya
Kulihat Ziyan tertawa tertahan. Mungkin memang terlihat aneh dimata Ziyan, aku yang biasanya makan en minum selalu ngikut dan samasekali tidak bisa menentukan pilihan, tiba-tiba malam ini bisa dengan tegas meneriakkan, “kopi krim dua, bang.”
Ya sudahlah...
“Dingin, Zhy?” tanyaku saat melihat Ziyan merapatkan tangannya.
Ziyan meringis. Kulepas jacket tebalku dan kusodorkan padanya.
Tanpa isyarat sedikitpun, tiba-tiba garis arsiran mulai turun dari langit.
“Hujan!” teriakku kaget.
Spontan kutangkap tangan Ziyan dan menariknya untuk berlari menuju sebuah warung tenda terdekat. Kucarikan tempat duduk untuk Ziyan disisiku. Kupastikan Ziyan tidak akan terkena air hujan. Beberapa orang kemudian mulai berdatangan untuk ikut berteduh. Ditengah alun-alun kota memang agak susah menemukan tempat untuk berteduh saat hujan turun tiba-tiba seperti ini. Satu-satunya tempat, ya tentu saja di warung-warung tenda macam ini.
“Kopi krim dua, bang,” pesanku pada pemilik warung tenda.
Ziyan menatapku heran,
“Tumben?”
Aku hanya tersenyum,
“Situasi darurat,” ujarku sekenanya
Kulihat Ziyan tertawa tertahan. Mungkin memang terlihat aneh dimata Ziyan, aku yang biasanya makan en minum selalu ngikut dan samasekali tidak bisa menentukan pilihan, tiba-tiba malam ini bisa dengan tegas meneriakkan, “kopi krim dua, bang.”
Ya sudahlah...
“Dingin, Zhy?” tanyaku saat melihat Ziyan merapatkan tangannya.
Ziyan meringis. Kulepas jacket tebalku dan kusodorkan padanya.
Rabu, 03 Februari 2010
First love
Bayanganmu selalu di anganku
Walaupun dirimu tak akan pernah tahuBagaimana cara kuungkapkan
Tuk berkata suka kepadamu
Sanubariku yang rindu padamu
Bergetar selalu saat kehadiranmu
Bagaimana cara kuungkapkan
Tuk berkata cinta kepadamu
Mungkinkah
Kita saling berkata cinta (mesra)
Mungkinkah kau terima
Rasa sayangku padamu
Biarkan saja kusimpan cinta ini
Sampai saat nanti kuungkapkan
Biarkan saja kusimpan cinta ini
Sampai saat nanti kaupun tahu
Sampai saat nanti kaupun tahu
Bagaimana caranya
Untuk berkata padamu
Dan mengungkapkan semua
Rasa cintaku padamu
Lagu ini dulu jadi hitsku saat masih menginjak bangku es em pe. Syeneng banget baca lyricknya. Sederhana dan apa adanya. Tentang kisah cinta seorang cowok pada seorang cewek yang begitu besar namun tak kuasa menyampaikannya dan memilih untuk diam, menunggu sang waktu yang membuka semua tabir itu. Hihi, setidaknya itu yang kutangkap dari lyrick lagu ini.
Bertahun-tahun aku melupakan lagu ini. Sampai sekitar setahun yang lalu saat aku tengah ‘menyalurkan hobi’ dan sampai pada sebuah kejadian yang mengharuskanku menemukan lyrick lagu ini, aku kebingungan. Hingga saat itu aku masih menghafal lyricknya namun sama sekali tidak mengingat siapa yang menyanyikannya :’(
Sampai pada paragraf :
“Setelah semua kukeluarkan dari kotak besar itu, aku menemukan beberapa lembar kertas disana. Segera kuambil. Andai kutemukan sebuah Diary, mungkin pertanyaan-pertanyaanku tentang Putra akan terjawab, tapi sayangnya hampir semua cowok tidak menyukai benda tersebut dan tidak biasa menumpahkan isi hatinya pada lembaran-lembaran berbau wangi itu. Kecuali beberapa lyrick atau puisi ini yang mungkin bisa membantuku”
“Ada beberapa lyrick lagu lengkap dengan notasi gitar tertera disana. Kuambil secarik diantaranya saat aku sempat membaca sekilas lyrick lagu tersebut, sepertinya lyrick tersebut tidak asing dimataku. Aku mencoba menginga-ingat pemilik salah satu lagu yang ditulis Putra, yang sepertinya dulu juga sangat akrab di pendengaranku via Radio.”
Dan setelah itu aku berhenti menulis, aku sama sekali tidak mengingat siapa penyanyinya, aku hanya mengingat lagunya. Hingga kemudian kukosongi halaman tersebut. Lalu beberapa bulan yang lalu, tanpa sengaja aku menemukan lagu tersebut lagi via om google (makasih google), ternyata yang nyanyiin Yanni Libels. Huft, benar-benar satu nama yang tak sedikitpun kupikirkan. Kemudian kucoba cari video klipnya, hihi ternyata aku nggak berhasil menemukannya ^_^
First love...
“Kurasakan mataku berkaca-kaca lagi mendengar semua yang dikatakan Adel. Mungkin memang aku yang bodoh karena membiarkan Putra masuk kehidupanku lagi. Tapi apa Adel tidak mengerti juga bagaimana sulitnya melupakan cinta pertama? Seandainya yang datang kemarin itu adalah Dandy, kupastikan aku langsung bisa membuatnya hengkang dari hidupku. Tapi ini Putra. My first love. Orang asing yang pertama kali mengenalkanku pada perasaan suka pada lawan jenis, yang benar-benar menyentuh hati, yang kemudian hanya dengan sedikit pembicaraan dan senyum darinya sudah mampu membuatku terbang melayang seakan tengah menjadi bagian dari kisah-kisah romantis dalam sebuah dongeng dan selanjutnya aku merasa telah menjadi seseorang yang beda dari sebelumnya.”
First love...
Gimanapun kronologisnya
Endingnya selalu bisa jadi cerita
First love...
Gimanapun hati pernah disakiti karenanya
Endingnya selalu diceritakan dengan senyum tertahan
First love...
Gimanapun marahnya
Endingnya selalu melupakan semua kekecewaan itu
First love...
Ya seperti itu....
^_^
Selasa, 02 Februari 2010
Dibalik ujan
Hujan masih setia mengguyur bumi Surabaya. Gemericik suaranya menyambut kepergian senja yang tengah berganti malam. Kucuran air yang ditumpahkan olehNYA begitu segar membasahi tanah yang kering.
Ehm, aku sangat menyukai suasana seperti ini. Dengan ditemani secangkir kopi krimer plus pisang atau ketela goreng rasanya hujan yang mencekam terasa nikmat, terlebih jika ada senior dan juniorku menemani. Bahagia rasanya melihat ayah dan anak bermain bareng, berebut mainan, bermain gulat maupun berlatih membaca. Dengan begitu kegiatan ‘penyaluran hobi’ bisa terealisasi ^_^
Jika tengah melihat kedua milikNYA yang tengah dititipkan padaku itu, aku seperti tidak menginginkan apa-apa lagi, padahal keluarga kecilku tergolong belum menjadi keluarga yang berhasil. Belum mempunyai rumah sendiri, belum mempunyai kendaraan yang nyaman dipakai dan belum mempunyai apapun yang sewajarnya diinginkan oleh sebuah keluarga, entah apa namanya.
Sejak menikah hampir empat tahun yang lalu, sejak itulah aku menemukan apa arti cinta. Beberapa kali sebelum itu aku begitu ‘malas’ berhadapan dengan yang namanya cinta, hingga kemudian setelah menikah itulah cinta itu tercipta.
Jika ada yang bertanya padaku, apa arti cinta menurut versiku? Pasti kujawab, cinta hanya ada setelah kita menikah. Cinta sebelum menikah itu hanyalah kumpulan dari rasa ingin tahu, emosi, gengsi, dan nafsu. Nggak lebih dari itu.
Apa yang kita banggakan saat kita berpacaran dulu?
Mau nraktir, dapet uang dari ortu. Mau nonton, uang juga dari ortu. Beliin kado buat pacar, uang juga dari ortu. Mau ngapel, kendaraan juga minjem ortu. Ehm, terbukti kan kalo semua palsu ^_^
Sementara semua punya ortu, kita begitu bersikukuh mempertahankan sang pacar. Memikirkannya setiap saat, nelfon juga tiap menit (padahal ngisi pulsa juga pake uang ortu), lagi sibuk belajar, nyempat-nyempatin say hello sang pacar, ujung-ujungnya ngobrol nggak jelas sekian jam lamanya. Belum lagi kalo lagi ada masalah, nangis seharian, mata bengkak, muncul jerawat, rambut rontok, mulai nggak doyan makan, hingga nilai semesteran menurun. Hey, sadarlah, belum tentu orang yang tengah kamu tangisi itu yang akan jadi pendamping hidupmu. So, calm down, beibeh.
Kalo saat ini kamu emang lagi punya makhluk yang disebut pacar, standar aja memperlakukannya, tidak usah terlalu mengistimewakan, jadi seandainya dia bukan jodohmu, kamu nggak perlu mengidap satu penyakit yang biasa dikenal dengan sebutan ’stress’ ^_^
Bagi yang udah cukup umur, sebaiknya menikahlah. Dalam pernikahan itulah kamu akan temukan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang apa adanya. Tanpa formalin dan tanpa bahan pengawet. Cinta yang bikin hati tenang. Cinta yang bikin senyum selalu mengembang. Cinta yang selalu membuatmu menyambut pagi dengan tarikan nafas lega. Bahkan, saat terjadi konflik sekalipun, kamu masih bisa makan dengan nyaman tanpa rasa takut kehilangan, karena kamu percaya bahwa dialah jodoh dunia dan akhiratmu.
Hanya jika kamu mencintai pasanganmu karenaNYA
Ehm, aku sangat menyukai suasana seperti ini. Dengan ditemani secangkir kopi krimer plus pisang atau ketela goreng rasanya hujan yang mencekam terasa nikmat, terlebih jika ada senior dan juniorku menemani. Bahagia rasanya melihat ayah dan anak bermain bareng, berebut mainan, bermain gulat maupun berlatih membaca. Dengan begitu kegiatan ‘penyaluran hobi’ bisa terealisasi ^_^
Jika tengah melihat kedua milikNYA yang tengah dititipkan padaku itu, aku seperti tidak menginginkan apa-apa lagi, padahal keluarga kecilku tergolong belum menjadi keluarga yang berhasil. Belum mempunyai rumah sendiri, belum mempunyai kendaraan yang nyaman dipakai dan belum mempunyai apapun yang sewajarnya diinginkan oleh sebuah keluarga, entah apa namanya.
Sejak menikah hampir empat tahun yang lalu, sejak itulah aku menemukan apa arti cinta. Beberapa kali sebelum itu aku begitu ‘malas’ berhadapan dengan yang namanya cinta, hingga kemudian setelah menikah itulah cinta itu tercipta.
Jika ada yang bertanya padaku, apa arti cinta menurut versiku? Pasti kujawab, cinta hanya ada setelah kita menikah. Cinta sebelum menikah itu hanyalah kumpulan dari rasa ingin tahu, emosi, gengsi, dan nafsu. Nggak lebih dari itu.
Apa yang kita banggakan saat kita berpacaran dulu?
Mau nraktir, dapet uang dari ortu. Mau nonton, uang juga dari ortu. Beliin kado buat pacar, uang juga dari ortu. Mau ngapel, kendaraan juga minjem ortu. Ehm, terbukti kan kalo semua palsu ^_^
Sementara semua punya ortu, kita begitu bersikukuh mempertahankan sang pacar. Memikirkannya setiap saat, nelfon juga tiap menit (padahal ngisi pulsa juga pake uang ortu), lagi sibuk belajar, nyempat-nyempatin say hello sang pacar, ujung-ujungnya ngobrol nggak jelas sekian jam lamanya. Belum lagi kalo lagi ada masalah, nangis seharian, mata bengkak, muncul jerawat, rambut rontok, mulai nggak doyan makan, hingga nilai semesteran menurun. Hey, sadarlah, belum tentu orang yang tengah kamu tangisi itu yang akan jadi pendamping hidupmu. So, calm down, beibeh.
Kalo saat ini kamu emang lagi punya makhluk yang disebut pacar, standar aja memperlakukannya, tidak usah terlalu mengistimewakan, jadi seandainya dia bukan jodohmu, kamu nggak perlu mengidap satu penyakit yang biasa dikenal dengan sebutan ’stress’ ^_^
Bagi yang udah cukup umur, sebaiknya menikahlah. Dalam pernikahan itulah kamu akan temukan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang apa adanya. Tanpa formalin dan tanpa bahan pengawet. Cinta yang bikin hati tenang. Cinta yang bikin senyum selalu mengembang. Cinta yang selalu membuatmu menyambut pagi dengan tarikan nafas lega. Bahkan, saat terjadi konflik sekalipun, kamu masih bisa makan dengan nyaman tanpa rasa takut kehilangan, karena kamu percaya bahwa dialah jodoh dunia dan akhiratmu.
Hanya jika kamu mencintai pasanganmu karenaNYA
Langganan:
Postingan (Atom)