Minggu, 27 April 2014

My Purple

Melangkah di bumi Allah SWT
Ini tentang sebuah langkah. Langkah kehidupan yang terus berjalan dalam rentang hari yang kita jalani. Ada banyak pilihan di dalamnya. Apakah kita akan memilih untuk melangkah setapak demi setapak atau justru kita berlarian mengejar mimpi. Apapun pilihan langkah kita akan selalu menuju tempat yang sama yaitu impian. Perlahan maupun cepat itulah wujud ikhtiar kita. Yang terpenting, jangan sampai kita tidak melangkah sama sekali, jika tidak ingin dikatakan orang yang merugi... (^_^)

Minggu, 06 April 2014

Habib dan Sepedanya

Saat masih menggunakan
roda kecil
Sepeda merah ini sebenarnya sudah ada di rumah sejak Habib berusia tiga tahun. Hadiah ulang tahun dari eyang dan kakungnya. Saat masih baru, Habib masih semangat menggunakan sepeda ini untuk jalan-jalan pagi atau sore dengan ayahnya. Saat itu masih menggunakan roda kecil di kanan dan kiri bagian belakang. Hingga saat Habib berusia lima tahun kurang sekian bulan (lupa, hehhe..), ayah mencoba melepas roda kecil tersebut dan melatih Habib di lapangan dekat rumah. Tapi, nihil. Habib belum bisa. Sepertinya dia belum siap. Lalu ayah memasangnya lagi. Sampai kemudian Habib bosan bersepeda dan kami pun menyimpannya bersama barang-barang lain yang tidak terpakai (waduh!!) di lantai dua (ketahuan emaknya nggak telaten melatih anaknya, hahayy).

Sampai kemudian beberapa hari yang lalu, kami main di rumah saudara sepupu. Niatnya, mau ramban (memetik hasil tanaman) bayam dan pepaya sayur. Dan saat di rumah sepupu saya tersebut, Habib diam-diam ‘terkesima’ (halah) melihat Kak Lia, anak dari sepupu saya tersebut (Lia dan Habib hanya selisih empat hari lahirnya, tapi bedanya Habib sudah kelas satu, Lia masih TK B), asyik bersepeda TANPA MENGGUNAKAN RODA KECIL.

Kenapa saya capslock tulisan di atas? Karena hal itulah yang kemudian memotivasi Habib untuk mengeluarkan sepeda kecilnya dari gudang. Alhasil, keesokan harinya, dia ingin melihat sepedanya. Ya. Semula hanya melihat saja. Namun kemudian setelah dibersihkan dan dipompa oleh sang ayah, Habib pun berniat belajar. Ya. Belajar. Tapi ternyata eh ternyata, dia langsung bisa. TANPA MENGGUNAKAN RODA KECIL. Alhamdulillah... Rasanya nggak percaya waktu Habib menghampiri saya saat saya tengah memasak di dapur, lalu dia bilang, “Bun, Habib udah bisa sepedaan. Ternyata gitu tok tho!” Wew!!

Tanpa roda kecil
Lalu, hari ini, dia minta main ke rumah Lia dan membawa sepeda. Membawa ya, bukan menaikinya. Karena jarak rumah kami ke rumah sepupu saya lumayan jauh, sekitar 20 KM. Jadi, kami menaruh sepeda kecil Habib di bagasi mobil untuk kemudian bersepeda di sana nantinya.

Kenapa Habib ingin bersepeda dengan Lia? Bukan. Sebenarnya bukan bersepeda bersama saja keinginannya, melainkan dia ingin menunjukkan kepada Lia bahwa dia juga sudah bisa bersepeda. Tentu saja, sebagai anak laki-laki dia tidak mau kalah dengan Lia. Dan di usianya yang baru enam tahun lebih 10 bulan tersebut itu adalah hal yang wajar, dimana dia akan merasa tidak nyaman jika dia tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan teman sebayanya. Sekali lagi, apalagi dia laki-laki. Pastilah selalu ingin lebih unggul. Apakah selalu begitu? Entahlah! Hanya saja yang saya lihat dari diri Habib selama ini begitu.

Happy bicycling, dear (^_^)

Sabtu, 05 April 2014

Tes Masuk Sekolah Dasar

Mas Bib dan LKS nya
Pagi tadi sekolahnya Habib rame. Hmm, biasanya juga rame sih, malah kadang susah bingittt kalo mau muter kendaraan, terlebih kendaraan roda empat. Soalnya sekolahnya Habib ini letaknya di ujung jalan. Mentok, nggak ada akses lain. Lah, kalo mentok berarti masuk gang donk? Hmm bukan gang sih, secara kalo gang kan nggak bisa dilalui kendaraan roda empat. Nah ini, roda empat masih bisa simpangan, cuma ya itu tadi, letaknya paling ujung. Eh salah ding, ujung sendiri masih ada masjid milik sekolahnya Habib. Jadi, kira-kira gambarannya seperti ini, kiri jalan letak sekolahnya Habib, lalu di depannya (yang dibatasi jalan yang cuman rame kalo pas antar-jemput saja) ada halaman luas tempat biasa wali murid parkir, di sebelahnya lagi ada saung atau gazebo tempat biasanya anak-anak makan siang. Agak ke sana lagi, ada tempat bermain flying fox, lalu tempat wudhu dan di pojok sendiri ada masjid besar tempat anak-anak sholat berjamaah dan mengaji.

Kembali kekeramaian tadi. Ternyata oh ternyata, ada tes penerimaan murid baru hari ini. Ya. Karena sekolahnya Habib ini swasta (IFDS = Islamic Full Day School), jadi seperti yang sudah-sudah, di bulan April dan Mei diadakan tes penerimaan siswa baru. Tentang apa saja yang diujikan bisa dilihat disini.


Jumat, 04 April 2014

Si 'Coklat' Lento

Namanya lento (nulisnya pake huruf h ga ya?!), makanan yang terbuat dari tempe medem (tempe yang sudah didiamkan 2-3 hari). Dulu, ibu saya sering banget bikin makanan ini. Katanya, kalau udah ada lento, tidak diperlukan lauk yang lainnya. Nasi + lento sudah sangat enak. Oh ya?!

Dannn... hari ini saya membuat lento tersebut, setelah selama ini saya sama sekali belum pernah mencoba membuatnya sendiri. Tadinya, seperti biasa jika di kulkas ada bahan makanan mentah yang mendekati masa expired (misalnya : sawi yang udah layu, bayam atau kangkung yang udah ga seger lagi, tempe atau tahu yang udah beberapa hari nginep di kulkas, dll), selalu saya berikan si mbak daripada saya buang. Mubadzir euy! Nah, kemarin sore saya melihat tempe medem itu di kulkas, dan tiba-tiba saya ingin membuat lento. Lalu, langsung saja tempe tersebut saya kukus. Mumpung belum berubah pikiran, jadi buru-buru aja ngukusnya, hehehe... Dan setelahnya, saya simpan di kulkas lagi untuk keesokan harinya. Sebenarnya mau dimasak sore itu juga, tapi di meja makan masih ada beberapa lauk tersisa, jadi, daripada terbuang percuma, saya masak esok hari saja, yaitu hari ini.

Bahannya tidak sulit, cenderung tersedia di kulkas kita. Setelah saya mengingat-ingat bumbu apa yang dipakai ibu saya sembari saya googling, saya memutuskan untuk menggunakan bahan-bahan ini :

Tempe medem (pastinya), saya menggunakan satu papan tempe medem, kukus dulu ya bunda
3 bawang merah dan 2 bawang putih, dikira-kira aja ya bun
Kencur. Saya hanya menggunakan sepertiga ruas jari, karena nemunya cuma segitu di kulkas
Daun bawang, iris tipis
3 daun jeruk, iris tipis, buang tangkainya
Kelapa muda, sedikit saja. Saya tadi beli dua ribu rupiah saja bunda
Telor, kocok lepas

Cara membuat :

   1.     Haluskan bawang merah + bawang putih + kencur. Jangan lupa tambahkan garam secukupnya.
     2.      Setelah halus, iris kecil-kecil tempe medem (agar mudah saat dihaluskan) lalu haluskan bersama bumbu.
      3.      Setelah halus, tambahkan kelapa muda parut + irisan daun jeruk. Campur hingga rata
    4.    Tuang telor sedikit-sedikit di ulegan tempe medem yang sudah dibumbui tadi sembari dicampur hingga rata
     5.    Bentuk bulat-bulat, lalu goreng hingga kecoklatan

Oh ya, bagi yang suka pedas, bisa ditambahkan cabe rawit di ulegan bumbunya. Beberapa orang tidak menggunakan telor dan diganti dengan tepung terigu dicampur air sedikit. Ada juga yang tidak menggunakan kelapa muda atau daun bawang. Tetap enak kok. Karena kelezatan makanan tidak semata dinilai dari bahan-bahannya, melainkan juga dari bagaimana kita memasak dan menyajikannya. Jadi, selama kita memasak menggunakan ‘bismillah’ dan menyajikan dengan tersenyum, insya Allah semuanya terasa yummy (^_^)

*happy lunch, AyBun and Kids

Senin, 10 Maret 2014

Hamil Bikin PeDe

Oh ya?! Yup!!

Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan kehamilan, saya rasakan ke-PeDe-an itu. Semula saya anggap biasa, tapi begitu saya bandingkan saat hamil dan tidak hamil, kok saya merasakan sesuatu yang janggal ya. Beberapa kejanggalan yang saya rasakan adalah :



  • Belanja. Saya biasa belanja sayur mayur mentah di depan rumah (hmm, maap saya lupa sebutannya apa), dan saya menemukan perbedaan kebiasaan sebelum belanja antara saat saya hamil dan tidak. Saat hamil, jika penjual sayur itu datang, saya biasa langsung memakai jilbab begitu saja walau saat itu saya tengah memakai daster (tentunya daster yang panjang yaa..), sedangkan jika tidak hamil, maka saya selalu menyempatkan diri berdiri di depan cermin, memoles sedikit powder (seringnya pake baby powder, hehehe...) dan memastikan tidak ada kotoran mata (setep).   
  • Pakaian. Saat bepergian saya (sedikit) terbiasa disibukkan dengan memadukan antara baju atasan, bawahan dan jilbab atau gamis dan jilbab. Warna harus senada. Setidaknya tidak terlihat terlalu kontras. Nah, saat hamil, saya bisa memakai baju apa pun. Bisa jadi bawahan rok besar motif bunga-bunga, atasan kaos panjang motif garis, dengan jilbab motif polkadot (ugh, enggak banget kan?!!) Tapi, itu nggak masalah buat saya saat hamil.
  • Kosmetik. Saya memang bukan penggemar atau penggila kosmetik, tapi bukan berarti saya tidak membersihkan muka saya, kan?! Beberapa kosmetik yang saya miliki hanya berupa handbody lotion, facial wash, pelembab, foundation dan bedak tabur. Saya tidak biasa memakai lipstik dan eye shadow maupun eye liner atau entah apalagi. Saat tidak hamil saya selalu memakai perlengkapan yang saya punya itu. Mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi. Bahkan saya akan merasa kurang jika perlengkapan sederhana itu tidak saya pakai. Namun hal itu tidak terjadi saat saya hamil, jangankan memakainya, mencium baunya saja saya sudah tidak tahan. Bahkan yang paling saya suka adalah sesaat setelah mandi atau wudhu, saat itu saya tidak perlu apa-apa lagi, karena saat bercermin, saya sudah merasa sangat cantik, hehehe...
  • Body. Perut saya memang tidak bisa rata seperti halnya perempuan lain pada umumnya, namun tidak juga terlalu menggelambir (huft, syukurlah), maka di saat tidak hamil, saya akan sibuk mensiasati bagaimana perut tersebut agar tidak terlihat terlalu besar (karena beberapa orang selalu menanyakan, “Lagi hamil ya?!” huwaaa... udah gede banget yak perut saya?!), namun hal tersebut tidak berlaku saat saya benar-benar hamil, saya justru bangga dengan perut saya yang besar tersebut.
  • De el el

Masih banyak hal-hal lain yang membuat saya lebih merasa percaya diri dikala hamil daripada tidak. Dari situ saya menyimpulkan betapa dahsyatnya aura seorang wanita hamil. Dengan tampil apa adanya ia akan selalu terlihat cantik dan menyenangkan. Bersyukurlah wanita yang sering hamil, karena ia akan selalu dikaruniai aura kebahagiaan tersebut. Bersyukurlah karena wanita itu telah diberikan kepercayaan dari Yang Maha Kuasa, berupa anugerah terindah yang tidak ternilai harganya.


Happy pregnancy, Moms (^_^)

Belajar Sahur

Jika Ramadhan tiba, maka sore hari menjelang malam sebelum berangkat tidur, Habib selalu memberi saya pesan dengan bunyi yang sama, “Jangan lupa bangunin aku sahur lho, Bun!” Dan bundanya selalu menyambut dengan ekspresif, walau saya tahu, pesan singkatnya yang berupa kalimat perintah dan bernada  semangat itu tidak sebanding dengan betapa susahnya membangunkan Habib di waktu sahur, hihihi...

Style Habib kalo lagi sahur (^_^)
Biasanya saya membangunkan Habib menjelang imsyak. Kira-kira 15 menit sebelum imsyak dengan pertimbangan, kasihan kalau dia harus bangun sebelum jam tiga pagi, walaupun setelahnya pastilah tidur lagi. Hal pertama yang harus saya lakukan adalah, tentu saja, membangunkannya. Saya biasa membangunkan suami dan anak saya dengan serangan pipi. Maksudnya, saya membangunkan mereka dengan menciumi pipi mereka secara terus menerus hingga mereka bangun.

Namun seperti biasa, Habib pastilah hanya bergumam, “Sik tho, Bun,” dengan tetap memejamkan matanya. Hmmm. Akhirnya saya langsung menggendong dan memindahkan tidurnya di depan TV. Mengapa harus di depan TV? Karena di depan TV, saya bisa menyuapinya tanpa ketinggalan melihat sinetron ramadhan favorit saya. Para Pencari Tuhan (PPT). Walaupun saya bukan penggemar sinetron, tapi untuk PPT saya suka.

Kembali ke Habib. Singkat kata, jadi, saya pun menyuapinya ketika ia masih dalam keadaan tertidur. Hanya beberapa sendok, bahkan terkadang ia hanya makan roti atau minum susu saja. Tapi alhamdulillah, saya suka semangatnya untuk belajar berpuasa. Semoga tahun ini dipertemukan kembali dengan Ramadhan dan semoga Habib semakin pintar puasanya.
  

Rabu, 05 Maret 2014

Nay (Page 46 ~ Sementara)

              .....
Sunyi. Kedunya sibuk dengan kopi dan pikirannya masing-masing.
Dion melirik sejenak cowok yang duduk tidak jauh darinya itu. Kesan ‘nakal’nya masih sama. Celana jeans yang seharusnya tidak layak pakai melekat di tubuhnya dipadu dengan kaos oblong jumbo. Serampangan. Diam-diam Dion mendesah. Jika cowok di dekatnya ini memang seorang playboy, bukankah seharusnya ia menjaga penampilan, tidak berantakan seperti ini. Apa yang cewek-cewek lihat dari cowok ini? Dan Nayla? Apa yang sebenarnya Nayla suka dari seorang Nugie?
“Pernah ketemu Nayla?” Tanya Nugie tiba-tiba seakan tahu saat ini Dion tengah memikirkan Nayla.
“Oh... enggak! Kamu?”
Nugie tertawa sendiri.
“Pernah. Sering malahan.”
Dion mengernyitkan dahi.
“Sering?”
“Ya aku sering melihatnya pulang dari kampus. Lihat aja sih. Jadi dia nggak tahu kalo aku ada di sekitarnya.”
Nugie tertawa, menyadari kelakuannya yang aneh.
Geblek! Sungut Dion dalam hati. Ia jadi teringat cerita Nayla semasa SMA dulu bahwa ia beberapa kali melihat Nugie di tempat les gitar yang tak jauh dari rumahnya. Ya. Aku hanya lihat dia aja nglewatin rumahku gitu. Tiap jam lima sore. Jadi ceritanya, aku selalu nunggu di ruang tamu sambil ngintip di gorden tiap jam lima sore. Itu kata Nayla beberapa tahun yang lalu yang disertai tawanya yang khas.
...............


Tentang Kamu, Dek (Part 2)

Kisah ini masih tentang my baby. Tentang baby saya yang tak terlahir di dunia. Yang Allah SWT minta kembali setelah enam bulan saya merasakan kehadirannya di dalam rahim. Tentang baby saya yang langsung Allah SWT masukkan ke surgaNya.

“Nanti kalau Pak Modinnya tanya nama, namanya Firdaus, Pak,” pesan suami saya kepada Bapak saat beliau membawa baby saya pulang untuk dimandikan dan dimakamkan. Jika memang meninggal di dalam kandungan dan masih berumur enam bulan, haruskah dimandikan dan dishalatkan? Ya. 

“Jika Janin tersebut sudah berumur empat bulan, maka status janin tersebut adalah makhluq yang bernyawa, dan dikatagorikan makluq hidup, sehingga harus  dimandikan, dikafani, disholatkan, serta dikuburkan sebagaimana kalau mengubur orang yang meninggal dunia. Ini adalah pendapat Syafi’I, Ahmad dan Ishaq bin Ruhawaih serta Ibnu Taimiyah pengarang kitab “ Al-Muntaqa “. (An-Nawawi, Syareh Shahih Muslim, 7/48, Ibnu Rajab, Fathu al-Bari : 1/ 487, Al Mubarfukuri,  Tuhfatu al-Ahwadzi, 4/ 102- 104 )

“Kenapa namanya Firdaus, Yah?” tanya saya waktu itu, suami saya menjawab karena baby kami langsung kembali ke FirdausNya. Semula saya ingin menambahkan Al Ayyat. Firdaus Al Ayyat, dikarenakan dua bulan terakhir saat Firdaus masih di dalam rahim, saya dan Firdaus selalu membaca ayat-ayat Allah minimal satu jam per hari. Untuk yang satu ini, saya sangat bersyukur memutuskan untuk mengikuti ODOJ (One Day One Juz) di saat Firdaus berusia empat bulan, sehingga kami serasa semakin dekat ketika bertilawah. Saya masih mengingat bagaimana Firdaus selalu merespon tiap ayat yang saya baca saat itu.

Tentang Kamu, Dek (Part 1)

Sampai hari ini saya masih dan selalu menyukai hujan. Menyukai aroma tanah basahnya sembari menantikan jutaan jarum itu menembus bumi Allah. Adalah sebuah kebiasaan bagi saya mendengungkan doa (meskipun kadang hanya di dalam hati) saat hujan mulai turun. Saya masih ingat doa yang sering saya panjatkan akhir-akhir ini, tepatnya sejak enam bulan yang lalu.

Enam bulan yang lalu, saya mendapati garis dua di test pack yang sudah saya beli beberapa bulan sebelumnya. Sujud syukur dan rasa bahagia yang membuncah seketika menguasai hati saya. Ada perasaan senang, cemas, gugup, tidak percaya, dan lain-lainnya yang muncul secara bersamaan.  Dan keajaiban itu terjadi. Sensitivitas tinggi, mood juga naik turun dengan fluktuasi yang tidak bisa ditebak. Kadang saya berpikir, bagaimana bisa janin yang masih berbentuk segumpal darah itu merubah semua hal? Kamar mandi saya yang baik-baik saja tiba-tiba selalu membuat mual setiap kali saya masuk. Suami saya yang baik-baik saja tiba-tiba sama sekali tidak ingin saya sentuh. Suara TV atau winamp di komputer yang baik-baik saja tiba-tiba menjadi masalah bagi saya. Bahkan makanan yang saya gemari hanya terbuang percuma sebelum sempat dicerna di dalam perut. Ya. Betapa ajaibnya gumpalan darah itu. Dan dari semua hal yang selalu ‘menyusahkan’ itu selalu saya sambut dengan belaian lembut di perut saya yang belum buncit tersebut. Subhanallah. Sungguh Allah SWT Maha Sempurna. Menciptakan suatu makhluk yang sama sekali belum terlihat namun mampu menimbulkan rasa cinta yang besar bagi saya.

Di usianya yang empat bulan, tendangan-tendangannya sudah bisa saya rasakan. Masih terasa seperti kedutan, namun sungguh luar biasa rasanya. Semakin bertambah hari semakin kuat tendangannya. Dan saya pun semakin jatuh cinta pada makhluk mungil di dalam rahim saya.

Hingga kemudian .....

Keajaiban Mimpi (Part 2)

M.I.M.P.I

Mari kita bicara tentang mimpi lagi. Mimpi saya beberapa waktu lalu yang saya bilang sangat tinggi dan yang kemudian justru semakin menambah kepercayaan dan keyakinan saya bahwa semua akan menjadi nyata, ternyata ..... 
BENAR-BENAR MENJADI KENYATAAN.

Alhamdulillah .....
Lima bulan sudah saya menikmati mimpi itu, semoga Allah SWT memberi rezeki yang luas dan barokah hingga kami bisa menyelesaikan kewajiban kami tiap bulannya. Hmm, kewajiban apa?! Bayar cicilan, say, hahayyy .....


Yang mampu mewujudkan mimpi yaaaa kita sendiri DENGAN KUASA-NYA. Loph YOU, ALLAH, 
sangatttt!!!

Madiun, 160513

Keajaiban Mimpi (Part 1)

M.I.M.P.I
Orang bilang HOPE. Harapan. Dan saya lebih suka menyebutnya KEAJAIBAN. Kenapa harus keajaiban?!! Simple saja, karena tidak semua orang mempunyai mimpi dan jika seseorang tersebut mempunyai mimpi itu berarti dia mempunyai kekuatan besar untuk mewujudkannya. Dan disitulah letak keajaibannya.

Dan .....

Saat ini saya mempunyai mimpi yang sangat besar. Mimpi yang kadang membuatku tertawa membayangkan betapa tingginya mimpi saya itu, namun sekaligus menambah kepercayaan diri yang sangat besar bahwa hal tersebut akan menjadi nyata. Keyakinan bahwa mimpi saya akan terwujud.
Naaaaa ..... Sudah terbayang kan betapa ajaibnya?!! 
Apa mimpi saya?!! 
Biar saya dan Allah SWT saja yang tahu :)

Brummm...

Madiun, 061012

Jumat, 17 Mei 2013

Si Kecilku SD


Ya. Tahun ajaran baru bulan Juli 2013 nanti si gantengku, Habib, mulai masuk sekolah dasar. Setelah sebelumnya saya sempat bimbang haruskah dia saya sekolahkan di negeri atau swasta, sebulan yang lalu saya yakin bahwa saya telah memilih sekolah swasta ini untuk enam tahun ke depan Habib.

Tanggal 27 April yang lalu Habib mengikuti tes ujian masuk Islamic Full Day School Al Husna. Beberapa tes yang diberikan adalah tes membaca, tes menulis, tes berhitung, tes bahasa inggris, tes kepribadian dan tes mengaji. Tes membaca berupa membaca beberapa kalimat (kurang lebih satu paragraf) sebuah buku cerita bergambar. Tes menulis terdiri dari menulis beberapa kata yang membentuk satu kalimat. Saat itu, Habib kebagian menulis à pensil untuk menulis, dan dua kata lagi à tas baru. Alhamdulillah dia bisa (^_^) sedangkan untuk berhitung, tester menyediakan sekotak permen yang kemudian dia memainkan penambahan dan pengurangan melalui permen tersebut. Tes bahasa inggris terdiri dari kosa kata ringan dan berbagai jenis warna. Untuk tes kepribadian, calon siswa diminta untuk menyebutkan identitasnya dan sedikit tanya jawab. Untuk tes mengaji, calon siswa akan ditanya, dia sampai iqro’ atau jus berapa, lalu membaca iqro’ atau jus yang ia sebutkan. Dan terakhir, bermain flying fox.

Mungkin hal terakhir itu yang sangat disukai Habib hingga dia bersikukuh ingin bersekolah di SDIT ini. Saya setuju saja karena saya memang suka cara belajar di SDIT ini, yang menerapkan metode SAL (Super Aktif Learning) dan juga jumlah siswa yang tidak terlalu banyak (maks 30 siswa) dengan satu guru kelas dan satu guru pendamping, serta tidak diberlakukan pe-er, sehingga semua harus selesai di kelas, jika tidak mampu, guru akan membantu.

SDIT ini memang masih tergolong baru tapi insya Allah akan cepat berkembang dengan sistem belajar yang tidak dimiliki sekolah lain. Walau Habib berkesempatan untuk sekolah negeri, tapi baik saya maupun suami sudah memilih sekolah ini. Tidak mengapa mahal sedikit tapi semoga manfaatnya banyak. Aamiin.

Enjoy your school, Bib (^_^)

Selasa, 09 April 2013

GG (Page 1-while)


Kebahagiaan hanya terasa sempurna jika kita bagi dengan orang yang kita sayangi. Orang tersebut bernama sahabat.

Kamar kostku yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu tengah heboh malam ini. Suara tawa membahana di ruangan kecil tersebut. Dan saat kuisyaratkan untuk mengecilkan suara, kontan penghuni kamar paling pojok ini justru makin memaksimalkan volume tertawanya. Semua seperti terlihat bahagia malam ini. Padahal kami sedang mengerjakan praktikum psikodiagnostik VI, yang kata senior-senior kami-sulitnya minta ampun, dan semua tugas tersebut harus dikumpulkan paling lambat besok pagi jam 8 ke asdos masing-masing. Tapi sungguh kami tak terlihat sedang stress mengerjakan tugas praktikum tersebut, bahkan kami masih sempat membuat bahan lelucon yang membuat rahang kami kesakitan karena capek tertawa.
Dan kurasakan udara malam di bumi Surabaya kian panas dengan kondisi kamar sekecil itu dan dihuni oleh 6 orang. Tapi mereka cuek. Kami tengah menikmati malam terakhir mengerjakan laporan psikodiagnostik.
Kami benar-benar tengah menikmatinya.
           Psikodiagnostik terakhir kami.
           ..........

#Kangen kuliah. Kangen ngumpul. Kangen Psikodiagnostik. Kangen GG.
Memorian, semester akhir, 2005

Hi sahabatku yang di sana,
bertahun-tahun kini kita tak jumpa
ada sebagian dari kita bahagia
ada pula diantara kita tengah berduka
apa yang sempat terjadi hanya menjadi cerita
namun kenangan tak akan mungkin kita lupa
semoga kita tetap bersama 
dalam kerinduan dan doa...

GoDev miss u so much, GG

Nay (Page 117-while)


Dion menghela nafas sejenak. Ada sesuatu yang sakit menusuk hatinya saat ia melihat Nayla mengobrol santai dengan Nugie, menanyakan les musik yang Nugie dirikan dan beberapa anak jalanan yang kata Nugie makin banyak yang menjadi muridnya.
Sesekali Nayla tertawa lepas. Jantung Dion menahan hentakan. Di dalam hatinya ia terus mendengungkan kata-kata Nayla beberapa waktu lalu, bahwa Nayla sudah terbiasa dengan kehadiran Nugie. Nayla tak lagi terobsesi maupun seantusias dulu. Ya!
BB Dion mengeluarkan satu bunyi kecil. Sebuah message masuk. Ia melirik Rina saat tahu siapa pengirimnya.
Udah jadian ya?
Dion membalas.
Belum
Kok?
Kok apanya?
Aneh aja, kalian mesra lho tadi!
So?
Ya kirain udah jadian
Nayla nggak mau pacaran. Apa langsung aku lamar aja ya?
Sontak Rina terbatuk. Lantas menahan tenggorokannya dengan tangan kanannya.

#All about Nay ^^

Kamis, 04 April 2013

Menulis


Menulis bagi saya, di lain waktu, lebih kepada media penyampai rindu. Ketika saya merasakan kangen yang luar biasa terhadap sahabat saya semasa kecil, misalnya, saya pun bisa menebus kerinduan tersebut melalui tulisan. Sedikit rasa kangen ternyata mampu menyuguhkan berjuta rangkaian kata yang membuat saya bernostalgia. Dengan menulis juga saya bisa membuat kisah dengan akhir yang saya mau tanpa mempedulikan bahwa kenyataan yang ada tidak demikian. Ah, kenapa harus saya ambil pusing, toh tulisan saya hanya fiktif belaka walaupun saya menghadirkan sosok yang benar-benar ada di dunia nyata.

Memang saya tidak pernah mampu membuat tulisan saya sempurna, tapi saya cukup lega karena setidaknya saya mampu menghadirkan sosok yang saya rindu di dalam cerita saya.

Lalu, dimana tulisan-tulisan saya itu?

Hmm masih seperti yang dulu-dulu, hanya tersimpan rapi di folder khusus.

Kenapa?

Karena saya tidak pernah bisa menceritakan secara detail setting sebuah tempat, misal cafe, rumah, kantor dsb, dan hal tersebut membuat tulisan saya terkesan mentah. Ah...

#Episode : ingin berguru

Rabu, 03 April 2013

Nay (Page 104-while)


......................
“Hi! Aku ganggu ya?!” suara Nugie mengawali pertemuan mereka siang ini.

“Oh eh enggak...” gugup Nayla menjawab seakan ia tidak siap dengan pertanyaan apapun dari Nugie, bahkan pertanyaan sesederhana itu.

“Boleh... duduk?!” Nugie bertanya lagi sembari menunjuk kursi kosong di pojok cafe. Kursi yang biasa ia duduki saat berkunjung ke Read (y) Cafe.

“Oh eh ya... tentu,” masih gugup Nayla mempersilakan tamunya duduk.

Nugie tidak menunggu lagi. Ia langsung menarik kursi empuk tak jauh darinya. Kursi dimana ia biasa duduk. Nayla membuntuti. Lalu duduk di hadapan Nugie setelah meng-kode Reni untuk menyediakan dua minum di mejanya.

Nayla duduk dengan canggung di kursinya. Ia hanya menempati beberapa bagian saja dari kursinya. Ia tidak asing dengan kekalutan ini. Ia sudah terbiasa dengan kecanggungan ini. Tapi di rumahnya sendiri? Masa iya ia harus mengalami hal seperti ini? Nayla mendesah pelan tanpa sepengetahuan Nugie.



#Kenapa yang namanya first love selalu identik dengan kecanggungan ^^

Nay (Page 90-while)

              ............................

        “Ok. Seperti halnya sebuah exam, aku akan mulai mengerjakan dari hal yang paling mudah buatku. Nayla. Kenapa aku katakan mudah? Karena aku mengenal Nayla seperti aku mengenal diriku sendiri.” Dion tersenyum sembari menatap Nayla. Nayla hanya melirik sekilas lalu asyik dengan cangkir kopinya. Dehemen terdengar lirih dari arah Della dan Rina. “Tidak ada yang istimewa pada perempuan ini. Dia sosok yang nggak bisa dandan, nggak bisa masak, nggak pinter browsing, nggak fashionable juga.” Nayla mendelik. Kesal. Dion menahan tawa. “Tapi... apa persahabatan memerlukan itu? No! Kamu humble, baik, ringan tangan, perhatian, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku nyaman berada di dekat kamu. Dan itu membuatmu lebih dari sekedar istimewa. Kamu keajaiban bagiku.”

#kangen sahabat

Senin, 01 April 2013

Nay (Page 80-while)


.............................
“SG Cafe?!”
Nayla membaca nama cafe tempat tujuan mereka. eSGe Cafe.
“Iya. Ini namanya SG Cafe. E-S-G-E. Kamu tahu kenapa diberi nama itu?”
Nayla menggeleng.
“SG itu kepanjangan dari Sheila Gank.”
Kedua mata Nayla mendelik. Mulutnya menganga lebar, nyaris membentuk huruf O besar. Aura wajahnya berbinar. Dan Dion tak kuasa menyembunyikan senyumnya. Ia menunggu moment ini. Moment dimana ia melihat wajah takjub Nayla terhadap suatu hal.
“Jadi ...”
“Eits, jangan harap di dalamnya ada personil Sheila On 7 lagi nyanyi, nggak mungkin kan?”
“Lalu?”
“Di dalamnya hanya ada band lokal biasa, tapi setiap hari mereka menyanyikan lagu-lagunya Sheila On 7.”
“Oh ya?” mata itu makin berbinar.
“Nah, setahuku kan kamu suka sama Sheila On 7, jadi ini surprised-nya, Nay!”
               Nayla belum beranjak dari kegiatan mematungnya. Dion menikmati gaya Nayla. Ia suka gaya itu. Gaya takjub yang mempesona. Ia tahu ia akan terus berusaha membuat gaya-gaya macam itu di wajah Nayla, walau untuk memenuhi itu semua ia harus berjuang.

#Kangen Sheila On 7 dan menulis secara bersamaan. (Page 80-while)

Rabu, 12 Desember 2012

Kangen Leutika



Seharian ini saya beraktivitas di rumah memakai T-Shirt hitam legam bertuliskan tiga kata di kiri atas bagian depan. Read. Write. Inspire. Lalu di bagian bawah sebelah kanan ada huruf e warna hijau terukir besar. Sedangkan di bagian punggung, terdapat tulisan Leutika. Bukan Penerbit Buku Biasa. (sayangnya saya belum sempat mem-foto T-Shirtnya)

Ah,tiba-tiba saya kangen berkompetisi lagi…

Sampai hari ini saya masih terus jatuh cinta dengan penerbit buku tersebut. Entah karena apa, hmm mungkin karena saya mengenal penerbit untuk pertama kalinya yaa di Leutika itu. Bersama Leutika dan LeutikaPrio saya pernah mendapatkan T-Shirt gratis ini, sejumlah uang hadiah dari lomba, buku-buku gratis kiriman dari Leutika hadiah atas lomba yang berhasil saya menangkan, ada juga buku antologi perdana saya yang diterbitkan oleh LeutikaPrio. Memang hanya beberapa hal terjadi antara saya dengan Leutika, tapi yang beberapa itu sungguh mengena di hati saya. Saya pun pernah memenangkan lomba yang bertema Leutika in your Blog, yang pernah saya posting di sini. Lomba itu mendadak saja saya ikuti karena saat itu saya sungguh sayang jika sampai melewatkan setiap moment yang diselenggarakan oleh Leutika.

Beberapa kali saya juga membeli buku terbitan Leutika. Mudah sekali pemesanannya. Saya tinggal transfer, konfirmasi, satu-dua hari buku sampai di tangan saya. Pernah suatu ketika saya menang suatu lomba, dan pihak Leutika seperti biasa akan mengirimkan hadiah paket buku dalam waktu satu-dua hari. Tapi saat itu, saat beberapa teman efbe saya update status bahwa mereka telah menerima buku tersebut, sementara saya belum menerimanya, saya masih menunggu beberapa hari, karena saya pikir mungkin di kota saya memang datang terlambat. Akhirnya setelah menunggu beberapa hari belum datang juga, saya pun konfirmasi dengan pihak Leutika. Dan ternyata terdapat kesalahan pencatatan data di sana, mereka langsung meminta maaf dan berjanji akan mengirim hadiah secepatnya. Dan siapa yang menyangka, keesokan harinya, belum juga matahari tepat di atas kepala, buku tersebut sudah datang di rumah saya. Ah, cepat sekali, tidak sampai 24 jam ^^

Sekarang. Saat ini. Saat saya memakai kaos oblong ini. Saya (lagi-lagi) merindukan kegiatan begadang, bercengkerama dengan MS Word, ditemani dengan susu atau kopi susu hangat. 

Ya Rabbi, dapatkah saya merasakan ‘sensasi’ itu lagi…?!!

Selasa, 11 Desember 2012

Short Story (Kesetiaan)




Nada terkikik membaca message dari Pak Johan, teman kerjanya.

“Jgn lupa nanti makan siang, tungguin aq ya, cyk”


Langsung dibalas

“Iya, maap kmrn aq tinggalin, saii”


“Hmm…”


“Habisnya kan nggak enak sm tmn2 kalo tiap hari qt keluar dr kantor barengan”


“Hmm…”


“Udah gtu qt makan di kantin sll duduk sebelahan lg”


“Hmm…”


“Kmu kok ham hem ham trs siy..”


“Iya iya cyk, I love u”


Nada melirik seseorang yang duduk tak jauh darinya, hanya berjarak sekitar tiga meter dari meja kerjanya. Seseorang itu tengah tersenyum manis untuknya.


“Love u too,” balas nada.


Bersamaan dengan itu bb-nya bergetar-getar tanda adanya panggilan. Nada mengangkatnya segera, 


“Iya, Pah, nanti Mamah tunggu di tempat biasa ya, jangan sampai telat, yaa…”


Hanya sebentar Nada berbicara di ponsel, lalu dia terkikik lagi membaca bbm-nya. 


“Suami ya? Hmm, untunglah istriku nggak suka tlp di saat jam kerja gini ya cyk.”


….. o0o …..